Langit itu mulai murka
Menumpahkan segala amarah dan penat
Dan aku di sini hanya pasrah
Benarkah?
penyuka kucing | pecinta panda | suka gambar tapi tidak jago | hobi nulis tapi belum mahir | selalu jatuh hati pada tokoh anime yang 'dingin'
Sabtu, 19 Juli 2014
Aku dan langit
Senin, 03 September 2012
dapatkah kau di sini?
dapatkah kau di sini?
tak ada benderang di asaku
kanan, penuh gelap
kiri, gulita meraba
atas, asa menjauh
dan tak mungkin aku ke bawah bukan?
kau pasti akan memarahiku
dapatkah kau di sini?
tak ingin apapun darimu
hanya senyum itu
dapatkah kau di sini?
tak ingin pengorbananmu
hanya mata peneduh itu
sekali lagi, dapatkah kau di sini?
temanku
tak ada benderang di asaku
kanan, penuh gelap
kiri, gulita meraba
atas, asa menjauh
dan tak mungkin aku ke bawah bukan?
kau pasti akan memarahiku
dapatkah kau di sini?
tak ingin apapun darimu
hanya senyum itu
dapatkah kau di sini?
tak ingin pengorbananmu
hanya mata peneduh itu
sekali lagi, dapatkah kau di sini?
temanku
Jumat, 06 Juli 2012
asou haruto
I don’t know what’s going to happen in the future.
But right now, what I’m feeling is 100% not a lie. I can say that with confidence.
For me, as long as it’s you saying it, it doesn’t matter how slowly you say it, I’ll still listen.
If you can’t talk over the phone, then I’ll come to see you, just like this.
If you want to walk, no matter how slow it’ll be, I’ll walk with you.
I may not be helpful now, but one day, I want to give help to you.
Things can’t be the same as they were before, but there’s this kind of feeling that’s linking us together.
I don’t think that we’re living in different worlds.
I…with regards to you…I like you. Maybe. I like you, maybe. Probably.
- Asou Haruto (1 Litre of Tears drama)
Kamis, 28 Juni 2012
menatap langit dan asa
Suatu
hari, seorang guru meminta para muridnya untuk membawa sekantong
plastik berisi kentang. Kentang-kentang itu nantinya mewakili setiap
orang yang pernah menyakiti mereka dan belum mereka maafkan. Mereka pun
menuliskan satu nama disetiap kentang. Nama-nama itu adalah nama
orang-orang yang pernah menyakiti mereka.
Beberapa
murid memasukkan sedikit kentang, namun sebagian memiliki banyak.
Mereka harus membawa kentang dalam kantong itu kemanapun mereka pergi
dan tak boleh jauh dari mereka, apapun yang terjadi.
Semakin hari, semakin banyak murid yang mengeluh karena kentang-kentang itu mulai mengeluarkan aroma busuk.
“Apakah kalian sudah memaafkan nama-nama yang kalian tulis pada kulit kentang kalian?” tanya sang guru.
Mereka tampaknya sepakat untuk belum bisa memaafkan nama-nama itu.
“Yah, kalau begitu, kalian tetap harus membawa kentang itu kemanapun kalian pergi,” lanjutnya.
Hari
demi hari berlalu. Aroma tak sedap dari kentang-kentang itu pun semakin
tak tertahankan. Banyak dari mereka akhirnya menjadi mual, pusing dan
tidak nafsu makan karenanya. Dan pada akhirnya, mereka membuang
kentang-kentang itu ke dalam tempat sampah. Mereka pun memutuskan untuk
juga membuang rasa dendam dan memaafkan orang-orang yang namanya
tertulis disana.
Sang Guru tersenyum memandang anak didiknya dan berkata, “Dendam
yang kalian tanam serupa dengan kentang-kentang itu. Semakin banyak
kalian mendendam, semakin berat kalian melangkah. Dan semakin hari,
dendam-dendam itu akan membusuk dan meracuni pikiran kalian.”
“Maafkan
mereka yang pernah menyakiti hati kalian. Jadikan ini sebagai pelajaran
dalam hidup. Dan kalian sudah tahu, dendam sama seperti kentang-kentang
busuk yang bisa dengan mudah kalian buang ke tempat sampah,” lanjutnya.
Sekalipun
dendam tidak kita rasakan beratnya secara fisik, namun secara perlahan
akan melemahkan mental kita. Yang pada akhirnya membuat hidup kita tak
nyaman.
“Memaafkan adalah satu-satunya cara melepaskan seorang tahanan dan menemukan bahwa tahanan itu adalah dirimu sendiri.” - Lewis B. Smedes, "Forgiveness - The Power to Change the Past," 7 January 1983Selasa, 26 Juni 2012
hal kecil itu berharga tapi terlupakan
Di
suatu acara seminar motivasi, sang motivator meminta para peserta yang
menggunakan jam tangan analog untuk membantunya maju ke depan. Lima
peserta tersebut kemudian diminta meletakkan pergelangan tangan di
belakang tubuh, agar jam tangan mereka tak terlihat.
Setelah
memastikan bahwa semua jam tangan tak terlihat, sang motivator bertanya
pada masing-masing peserta tentang usia dan harga jam tangan mereka.
Semua pemilik jam tangan ternyata ingat berapa usia dan harga jam tangan
mereka, dan hampir semua jam tangan telah berusia lebih dari satu
tahun.
Tersenyum, sang motivator lalu menanyakan pertanyaan kedua,
“Nah,
bila Anda semua ingat berapa usia dan harga jam tangan Anda, sekarang
coba Anda ingat, berapa kali Anda melihat jam tangan itu setiap hari?”
Kelima
peserta yang maju mengatakan bahwa mereka sangat sering melihat waktu
pada jam tangan mereka. Hampir setiap satu jam sekali, bahkan bisa
beberapa menit sekali jika sedang menunggu kedatangan seseorang atau
bosan.
Sang motivator melanjutkan,
“Anda
sudah memiliki jam tangan ini dalam waktu yang lama dan sering
memakainya, sering melihat waktu pada jam tangan Anda, bahkan juga ingat
dengan harganya. Sekarang silahkan Anda ingat, dengan tangan Anda tetap
di belakang, apakah penanda waktu pada jam tangan Anda memakai angka
Arab (1, 2, 3) atau angka Romawi (I, II, III)?”
Semua
peserta tampak kebingungan dan berpikir keras untuk mengingat apakah
penanda waktu pada jam tangan mereka memakai angka Arab atau Romawi.
Satu persatu dari mereka pun akhirnya menjawab dengan tak yakin. Setelah
itu, mereka dipersilahkan melihat jam tangan mereka untuk memastikan
apakah tebakan mereka benar atau salah.
Dari
lima peserta, hanya satu yang benar. Bahkan ada peserta yang menjawab
bahwa penanda jam tangannya memakai angka Romawi, padahal jam tangan
miliknya hanya memakai penanda strip ( - ).
Percobaan
sederhana ini telah ‘menyentil’ kita. Bayangkan saja, jika dalam sehari
kita melihat jam tangan kita sepuluh kali saja, sudah berapa ribu kali
kita melihat penanda waktu pada jam tangan kita? Namun hal kecil ini
justru luput dari pandangan kita.
Kita
seringkali menerima kebaikan kecil yang berulang-ulang setiap hari dari
orang-orang terdekat kita, keluarga, misalnya. Sudahkah kita berterima
kasih pada mereka? Atau justru tidak sadar pada hal-hal kecil yang
sebenarnya menopang hidup kita?
Minggu, 10 Juni 2012
Es Krim Ubi Ungu
Es Krim Ubi Ungu (judul asli: Es Krim Ubi Jalar)
Sumber: Majalah Santap

Bahan:
Sumber: Majalah Santap
Bahan:
- 300 ml santan dari 1/2 butir kelapa ----- kl sy pake santan instan cair
- 2 batang kayu manis
- 3 butir cengkeh
- 150 gr gula pasir ----- ini bs dikurangi kl mau ga terlalu manis
- 1/2 sdt garam
- 2 lembar daun pandan, sobek dan simpulkan
- 300 gr ubi jalar (warna ungu kl ada) ----- sy pake ubi ungu thailand
- 250 ml krim kocok segar (whipping cream)
Cara Membuat:
- Campur santan dengan kayumanis, cengkeh, gula pasir dan garam. Tambahkan daun pandan. Masak sambil diaduk sampai mendidih. Sisihkan.
- Kukus ubi jalar ungu hingga lunak, haluskan selagi panas dengan disaring atau dengan penekan kentang (jangan melumatkan dengan blender). Campurkan ubi ungu pada santan, aduk rata. Saring lagi bila perlu. Beri pewarna ungu (sy ga pake, krn sy pake jenis ubi ungu thailand, dmn warna ubi nya luar dalem ungu, sehingga hasilnya udah ungu banget).
- Pindahkan adonan ke dalam container plastik, atau lebih baik lagi wadah dari stainless steel. tutup rapat dan dinginkan dulu dalam lemari es agar adonan cukup dingin.
- Kocok krim hingga kaku dalam mangkuk yang telah didinginkan dalam lemari es. Gunakan kecepatan sedang. Masukkan krim kocok ke dalam adonan yang telah dingin, aduk balik hingga rata.
- Membekukan: pindahkan adonan ke dalam container plastik atau lebih baik lagi wadah dari stainless steel. Bekukan sampai adonan pada pinggir wadah mulai mengeras. Keluarkan, haluskan dengan mixer atau dalam blender. Bekukan lagi.
- Lakukan proses ini 2 - 3 kali sampai es krim benar2 membeku dan keras.
- Penyajian: sajikan dengan whipping cream dan taburi kacang mete gepuk. (kalo saya, ditaburi almond flake yg udah disangrai).
- untuk rasa yang lebih original, kayumanis dan cengkeh bisa ditiadakan, diganti dengan esens talas. i think it's worth to try. karena yang saya buat ini rasanya mirip2 bubur ketan item....:)).
- jangan mengabaikan penambahan topping kacang mete gepuk ato kalo saya almond flakes yg udah disangrai. krn topping ini bener2 membantu rasa 'berat' dari es krim ini dan menaikkan cita rasanya.
- one scoop is enough. karena es krim ini terbuat dari ubi, jadi cukup mengenyangkan. bisa menggantikan satu porsi nasi....:))
Langganan:
Postingan (Atom)